- Merencanakan kegiatan penyelesaian studi.
- Mengembangkan potensi.
- Mengatasi hambatan-hambatan.
- Untuk membantu orang-orang menjadi insan yang berguna, tidak hanya sekedar mengikuti kegiatan-kegiatan yang berguna saja.
- Untuk membantu individu-individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyesuaian dan interpretasi-interpretasi dalam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.
- Mengatasi pemasalahan yang dihadapi.
- Melakukan pemecahan masalah.
- Mengembangkan penerimaan pribadi.
Showing posts with label Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Show all posts
Showing posts with label Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Show all posts
Monday, 11 March 2013
Tujuan Bimbingan dan Konseling
Tujuan Bimbingan dan Konseling :
Sunday, 17 February 2013
Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip-prinsip
BK
Prinsip dapat diartikan sebagai permulaan untuk suatu
cara tertentu yang akan melahirkan hal-hal lain, yang
keberadaannya tergantung dari permulaan itu. Bimbingan konseling
membutuhkan suatu prinsip atau aturan main dalam menjalankan program
pelayanan bimbingan. Menurut Prayinto dan Amti
(1994:220) prinsip bimbingan
konselingya itu rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya
berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan dan penyelenggaraan
pelayanan.
Adapun rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
yang berkenaan dengan objek dalam pelayanan bimbingan yaitu prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan sasaran layanan, prinsip
yang berkenaan dengan
permasalahan idividu, prinsip yang berkenaan dengan program
pelayanan dan yang terakhir prinsip yang berkenaan dengan tujuan dan
pelaksanaan pelayanan. Dari empat
rumusan tersebut, bimbingan dan konseling akan tercapai sesuai keinginan
konselor dan klien.
1.
Prinsip
Umum
a. Bimbingan
harus berpusat pada individu yang di bimbingnya.
b. Bimbingan
diberikan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu
mengarahkan dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
c. Pemberian
bantuan disesuaikan dengan kebutuhan individu yang dibimbing.
d. Bimbingan
berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu.
e. Pelaksanaan
bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang
dirasakan individu yang dibimbing.
f. Upaya
pemberian bantuan harus dilakukan secara fleksibel.
g. Program
bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan
pembelajaran di sekolah yang bersangkutan.
h. Implementasi
program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh orang yang memiliki
keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pe;laksanaannya harus
bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, seperti dokter psikiater, serta
pihak-pihak yang terkait lainnnya.
i. Untuk mengetahui hasil
yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan
penilaian atau ekuivalensisecara teratur dan berkesinambungan.
2.
Prinsip-Prinsip
Khusus yang Berhubungan Dengan Siswa
a. Pelayanan
BK harus diberikan kepada semua sisiwa.
b. Harus
ada kriteria untuk mengatur prioritas
pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau siswa.
c. Program
pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa.
d. Pelayanan
dan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
individu yang bersangkutan beragam dan luas.
e. Keputusan
akhir dalam proses BK dibentuk oleh siswa sendiri.
f. Siswa
yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong
dirinya sendiri.
3. Prinsip
Khusus yang Berhubungan dengan Pembimbing
a. Konselor
harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
b. Konselor
di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan pengalaman, dan
kemampuan.
c. Sebagai
tuntutan profesi, pembimbing atau konselor harus senantiasa berusaha
mengembangkan dirinya dan keahliannya melalui berbagai kegiatan.
d. Konselor
hendaknya selalu mempergunakan berbagai informasi yang tersedia tentang siswa
yang dibimbing beserta lingkungannya sebagai bahan yang membantu innsividu yang
bersangkutan kearah penyesuaian diri yang lebih baik.
e. Konselor
harus menghormati, menjaga kerahasiaan informasi tentang siswa yang
dibimbingnya.
f. Konselor
harus melaksanakan tugasnya hendaknya mempergunakan berbagai metode yang sama.
4. Prinsip
yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi (Manajemen) Pelayanan
Bimbingan Konseling
a. bimbingan
dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
b. Pelaksanaan
bimbingan dan konseling ada di kartu pribadi (commulative record) bagi setiap siswa.
c. program
pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah
atau madrasah yang bersangkutan.
d. Harus
ada pembagian waktu antar pembimbing, sehingga masing-masing pembimbing
mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling.
e. Bimbingan
dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan
masalah yang dipecahkan dan metode yang dipergunakan dalam mememcahkan masalah
terkait.
f. Dalam
menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, sekolah dan madrasah harus
bekerja sama dengan berbagai pihak.
g. Kepala
sekolah atau madrasah merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan
bimbingan dan konseling di sekolah.
Prayitno dan Erman Amti (1999)
mengklasifikasikan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling ke dalam empat
bagian, yaitu:[1]
1. Prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan sasaran pelayanan
2. Prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan individu
3. Prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan program pelayanan
4. Prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan
Dapat kita lihat dari rumusan
masing-masing mempunyai poin-poin tertentu, yaitu:
a. Prinsip-prinsip
yang berkenaan dengan sasaran layanan
1. Bimbingan
dan konseling melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis kelamin,
suku, agama dan status sosial ekonomi.
2. Bimbingan
dan konseling berurusan denganpribadi dan tingkah laku individu yang
unik dan dinamis.
3. Bimbingan
dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap-tahap berbagai aspek perkembangan
individu.
4. Bimbingan
dan konseling memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual
yang menjadi orientasi pokok pelayanan.
b. Prinsip
yang berkenaan dengan pemasalahan individu
1. Bimbingan
dan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian
dirinya di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan
pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental
dan fisik individu.
2. Kesenjangan
sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan factor timbulnya masalah pada
individu yang semuanya menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan dan
konseling.
c. Prinsip
yang berkenaan dengan program layanan
1. Bimbingan
dan konseling merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan pengembangan
induvidu; oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus diselaraskan
dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
2. Program
bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu,
masyarakat, dan kondisi lembaga.
3. Program
bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan
terendah sampai tertinggi.
d. Prisip-prinsip
yang berkenaan dengan tujuan dan
pelaksanaan pelayanan
1. Bimbingan
dan konseling harus mengarahkan individu mampu menyelesaikan permasalahan
pribadi.
2. Dalam
proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan akan dilakukan oleh
individu harusnyan atas kemauan individu sendiri, bukan karena desakan atau
kemauan orang lain.
3. Permasalahan
individu harus ditangani oleh tenaga ahli daa bidang yang relevan dengan
permasalahan yang dihadapi.
4. Kerja
sama antara pembimbing dengan guru lain dan orang tua meentukan hasil pelayanan
pembimbingan.
5. Pengembangan
program layanan bimbingan dan konseling ditempuh melalui pemanfaatan yang
maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian terhadap individu yang terlibat
dalam proses pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.
Refrensi : Tohrin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
Asas
Bimbingan dan Konseling
Dalam
setiap kegiatan yang akan dilaksanakan seharusnya ada suatu dasar atau landasan
yang menjadi pertimbangan akan dilaksanakannya kegiatan tersebut. Demikian pula
dalam kegiatan bimbingan dan konseling, ada asas yang dijadikan dasar
pertimbangan dalam kegiatan itu. Terdapat dua belas asas yang harus menjadi
dasar pertimbangan dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling itu
adalah sebagai berikut.
1.
Asas Kerahasiaan
Kerahasiaan
dalam sebuah bimbingan dan konseling sangatlah ditekankan bahkan menjadi kunci
dalam dasar penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Seorang konselor
harus mengetahui secara detail akan masalah pribadi klien sampai kehal yang
sangat rahasia. Oleh karena itu konselor harus menjaga kerahasiaan data yang
diperoleh dari kliennya. Kerahasiaan data perlu dihargai dengan baik, karena
berhubungan menolong dalam dalam bimbingan dan konseling hanya dapat
berlangsung dengan baik jika data atau informasi yang dipercayakan pada
konselor dapat dijamin kerahasiaannya. Sebagaimana firman Allah swt. Bahwa
memelihara amanah dan menepati janji merupakan salah satu karakteristik orang
yang beruntung. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Mu’minuun/23:8
Artinya;…Dan
orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janji-janjinya.
2. Asas Kesukarelaan
Dalam
memahami pengertian bimbingan dan konseling telah dikemukakan bahwa bimbingan
merupakan proses membantu individu. Pengertian membantu disini yaitu bahwa
bimbingan bukan suatu paksaan. Oleh karena itu, dalam kegiatan bimbingan dan
konseling perlu adanya kerjasama yang demokratis antara konselor dan kliennya.
Kerjasama akan terjalin apabila klien dapat dengan suka rela menceritakan serta
menjelaskan masalah yang dialaminya pada konselor.
3.
Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan merpakan asas penting bagi konselor, karena hubungan tatap muka
antara klien dengan konselor merupakan pertemuan bathin. Dengan adanya
keterbukaan klien pada konselor dapat lebih membuka dirinya , unuk membuka
kedok hidupnya yang mejadi penghambat perkembangannya.
4. Asas Kekinian
Pada umumnya pelayanan bimbingan dan
konseling bertitik tolak dari masalah yang dirasakan klien saat sekarang, namun
pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling itu semdiri menjangkau dimensi
waktu yang lebih luas. Dalam hal ini diharapkan konselor dapat megarahkan klien
untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sebagaimana firman
Allah swt
Artinya
: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengajarkan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati menetapi
kesabaran.”(QS. Al-ashar/103:1-3)
5. Asas Kemandirian
Salah satu tujuan diberikannya
bimbingan dam konseling adalah agar knselor berusaha menghidupkan kemandirian
di dalam diri klien. Karena pada tahap
awal proses konseling, biasanya klien menampakan sikap yang lebih tergantung
dibandingkan pada tahap akhir bimbingan dan konseling. Sebenarnya sikap
ketergantungan klien terhadap konselor ditentukan oleh respon-respon yang
diberikan konselor pada kliennya. Oleh karena itu konselor dank lien harus
berusaha untuk menumbuhkan sikap kemandirian itu di dalam diri klien dengan
cara memberikan respon yang cermat. Sebagaimana firman Allah swt.
Artinya
: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
( dari kejahatannya ) yang dikerjakannya….”(QS. Al-Baqarah/2:286)
6.
Asas Kegiatan
Yaitu asas bimbingan dan konseling
yang menghendaki agar klien yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi
secara aktif id dalam proses penyelenggaraan bimbingan. Dalam hal ini konselor
perlu mendorong klien untuk aktif dalam setiap kegiatan bimbingan dan konseling
yang diperuntukan baginya.
7.
Asas Kedinamisan
Keberhasilan
usaha pelayanan bimbingan da konseling ditandai dengan terjadinya perubahan
sikap dan tingkah laku klien kea rah yang baik. Untuk mewujudkan terjadinya
perubahan sikap dan tingkah laku itu membutuhkan proses dan waktu yang sesuai
dengan kedalaman dan kerumitan masalah yang dihadapi klien. Konselor dan klien
serta pihak-pihak lain diminta untuk
bekerja sama sepenuhnya agar pelayanan bimbingan dan konseling yang diberikan
dapat dengan cepat menimbulkan perubahan sikap dan tingkah laku baik pada klien. Sebagimana firman Allah swt.
Artinya
: …”sesungguhnya Allah tidak mnbah keadaan suatu kaum, sehingga mereka
mengubah dirinya sendiri.”(QS. Ar Ra’du/13:11)
8. Asas Keterpaduan
Asas ini yang menghendaki agar berbagai proses pelayanan bimbingan dan konseling
terjalin kerja sama yang baik antara konselor dengan pihak lain yang dapat
membantu penanggulangan masalah yang dihadapi klien.
9. Asas Kenormatifan
Pelayanan bimbingan dan konseling
yang dilakukan hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di
dalam masyarakat dan lingkungannya. Konselor harus dapat membicarakan secara
terbuka dan terus terang segala sesuatu yang menyangkut norma dari mulai bagai
mana berkembangnya, bagaimana penerimaan masyarakat, apa dan bagaimana
akibatnya bila norma-norma it uterus dianut dan lain sebagainya. Sehingga klien
dapat menentukan dan memilih norma-norma yang akan dianutnya.
10. Asas Keahlian
Untuk menjamin keberhasilan usaha
bimbingan dan konseling, para konselor harus mendapatkan pendidikan dan latihan
yang memadai. Sebagimana firman Allah swt.
Artinya
: “Maka disebabkan oleh rahmat Allah,
kami berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
mereka yang bertakwa kepada-Nya.”(QS. Al-imran ayat 159)
11. Asas Alih Tangan
Bimbingan
dan konseling merupakan kegiatan professional yang menangani masalah-masalah
yang cukup sulit. Dengan keterbatasan konselor dalam membantu dan menyelesaikan
masalah klien sedangkan dalam bimbingan dan konseling pelayanannya harus tuntas
jangan sampai terkatung-katung sehingga klien menjadi semakit susah dalam
menyelesaikan masalahnya.
12.
Asas Tut Wuri Handayani
Asas ini
menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat
menciptakan suasana mengayomi (rasa aman), mengembangkan keteladanan, dan
memberikan rangsangan dan dorongan.
Friday, 15 February 2013
Pengertian Bimbingan dan Konseling
Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli
kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur, cara dan bahan agar individu
tersebut mampu mandiri dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
Sedangkan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang didasarkan pada
prosedur wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada
individu (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi
klien.
Definisi Bimbingan Menurut Para Ahli
Definisi Bimbingan Menurut Para
Ahli
Berbagai
definisi bimbingan menurut para ahli diantaranya, menurut Miller (1961) dalam
Surya (1988), menyatakan bahwa bimbingan merupakan proses bantuan terhadap
individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan
untuk melakukan penyesuaian diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian
diri secara maksimum kepada sekolah (dalam hal ini termasuk madarasah),
keluarga, dan masyarakat.
Selanjutnya
Surya (1988) mengutip pendapat Crow & Crow (1960) menyatakan bahwa
bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang baik laki-laki maupun
perempuan yang memiliki pribadi baik dan pendidikan yang memadai, kepada
seseorang (individu) dari setiap usia untuk menolongnya mengembangkan
kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah pandangannya sendiri,
membuat pilihan sendiri, dan memikul bebannya sendiri (M. Tohirin 2008:17).
Arthur J. Jones
(1970) mengartikan bimbingan sebagai "The help given by one person to
another in making choices and adjustment and in solving
problems". Pengertian bimbingan yang dikemukakan Arthur ini amat
sederhana yaitu bahwa dalam proses bimbingan ada dua orang yakni pembimbing dan
yang dibimbing, dimana pembimbing membantu si terbimbing sehingga si terbimbing
mampu membuat pilihan-pilihan, menyesuaikan diri, dan memecahkan
masalah-masalah yang dihadapinya (Sofyan S. Willis 2009:11)
Menurut Smith
dalam McDaniel (1959), bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada
individu-individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan
keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan-pilihan,
rencana-rencana, dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan untuk
menyesuaikan diri yang baik (Prayitno & Erman Amti 1994:94).
Peters dan Shertzer
(1974) mengemukakan definisi bimbingan sebagai berikut, "Guidance, as
used here and throughout this book, is defined simply as the process of helping
the individual to understand himself and his world so that he can utilize his
potentialities". Dari definisi di atas terungkap pengertian bahwa
bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu agar ia memahami dirinya
dan dunianya, sehingga dengan demikian ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya
(Sofyan S. Willis 2009:14).
Moegiadi (1970)
bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan atau pertolongan kepada
individu dalam hal: memahami diri sendiri; menghubungkan pemahaman tentang
dirinya sendiri dengan lingkungan; memilih, menentukan dan menyusun rencana
sesuai dengan konsep dirinya sendiri dan tuntutan dari lingkungan (Winkel &
Sri Hastuti 2007:29)
Rochman
Natawidjaja (1981) Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu
yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami
dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai
dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Dengan demikian dia
dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang
berarti (Winkel & Sri Hastuti 2007:29)
Andi Mappiare
(1984) berpendapat bahwa bimbingan merupakan serangkaian kegiatan paling pokok
bimbingan dalam membantu konseli/klien secara tatap muka, dengan tujuan agar
klien dapat mengambil taanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau
masalah khusus (Winkel & Sri Hastuti 2007:35)
Bimbingan
adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu dalam
menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar
individu atau sekumpulan individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya
(Bimo Walgito 2005:5)
Bimbingan
adalah proses bantuan terhadap individu yang membutuhkannya. Bantuan tersebut
diberikan secara bertujuan, berencana dan sistematis, tanpa paksaan melainkan
atas kesadaran individu tersebut, sehubungan dengan masalahnya (Sofyan S. Willis
2009:13)
Bimbingan
adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada
seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa
agar orang-orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan
mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku (Prayitno & Erman Amti
1994:99)
Begitu banyak
definisi-definisi bimbingan menurut para ahli namun terdapat juga unsur yang
menunjukan kesamaan.
Dari berbagai
definisi di atas dapat kita tarik kesimpulan sederhana tentang pengertian
bimbingan yakni, bimbingan merupakan proses pemberian bantuan oleh pembimbing
yang memiliki kepribadian baik dan pendidikan yang memadai (pengetahuan luas)
kepada individu atau kelompok secara tatap muka, sistematis dan
berkesinambungan untuk mengatasi kesulitan atau masalah-masalahnya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dalam mengatasi pemecahan masalahnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
